Kami mengamati SOP dan dokumen job description sering kali terlalu diagung-agungkan, seolah sebagai dokumen “sakti” manajemen. Seolah-olah adanya job description dan SOP akan menggaransi output kinerja tim atau kerja sama antar divisi.
Bagaimana jika SOP sudah ada, tapi standar kinerja tetap berantakan? Bagaimana kalau pengalaman perusahaan sekelas Boeing menunjukkan bahwa masalah dari kinerja tim kita bukan disebabkan karena organisasi kita tidak punya SOP? Tapi karena SOP itu belum berubah jadi ekosistem pola kerja.

